-->

Tutorial

  • Android
  • Blogger
  • Pendidikan
  • Printer
  • Komputer
  • MedSos
  • Artikel ini menunjukkan bahwa aksi kekerasan yang sering terjadi di Indonesia yang pada umumnya dilakukan oleh gerakan Islam garis keras dilakukan dengan mengatasnamakan agama/jihad atau amar ma’ruf nahi mungkar. Padahal aksi kekerasan ini berlawanan dengan ajaran Islam yang mulia seperti kedamaian. Demikian juga tidak sejalan dengan Piagam Madinah, Konstitusi Negara RI (UUD 1945), falsafah bangsa (Pancasila), dan semboyang bangsa (Bhineka Tunggal Ika). Dalam konteks ini, nilai-nilai Aswaja , berupa keadilan, kesetaraan dan toleransi, karena sejalan dengan Piagam Madinah, UUD 1945, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika, menjadi penting diaktualisasikan dalam mencegah semakin meluasnya gerakan Islam garis keras.

    Islam sebagai agama yang berasal dari Allah Taala bersifat komprehensif dan relevan di berbagai dimensi ruang dan zaman. Terbukti bahwa ajaran Islam yang berkembang di daerah manapun selalu menjadikan masyarakatnya memiliki pribadi dan peradaban yang baik. Hal ini karena sifat ajaran Islam yang tidak ekstrim dalam menyikapi segala sesuatu, sehingga masia merasa terayomi dan terlindungi dengan hukum Islam tanpa mencerabut prinsip dan asas Islam itu sendiri. Sifat ini merupakan ciri khas Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah dibandingkan dengan berbagai firqah Islam dan agama lainnya.

    Indonesia merupakan negara yang memiliki pluralitas dan kemajemukan masyarakat yang tinggi. Dalam kondisi demikian, Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah telah terbukti mampu berkembang begitu pesat di seluruh penjuru negeri hingga menjadikan mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Selain itu, ajaran Aswaja yang diajarkan oleh ulama dan kyai telah mendarah daging di masyarakat sehingga sikap sopan santun, ramah, dan tawadlu menjadi ciri khas bangsa Indonesia di mata dunia, sekaligus memiliki sikap militan dan teguh dengan agamanya, sehingga selama tiga setengah abad hingga sekarang bangsa Indonesia tidak mudah dimurtadkan oleh penjajahan yang datang silih berganti.

    Sekilas Tentang Ahlussunnah wal Jamaah
    Islam merupakan agama Allah SWT yang diturunkan untuk seluruh masia. Di dalamnya terdapat pedoman dan aturan demi meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ada tiga hal yang menjadi sendi utama dalam agama Islam itu, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

    Dari sisi keilmuan, semula ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Namun selanjutnya para ulama mengadakan pemisahan, sehingga menjadi bagian ilmu tersendiri. Bagian-bagian tersebut mereka elaborasi sehingga menjadi bagian ilmu yang berbeda. Perhatian terhadap Iman memunculkan ilmu tauhid atau ilmu kalam. Perhatian khusus pada aspek Islam menghadirkan ilmu fiqh atau ilmu hukum Islam. Sedangkan penelitian terhadap dimensi Ihsan melahirkan ilmu tashawwuf atau ilmu akhlak. Ketiga aspek inilah yang menjadi inti daripada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

    Secara etimologis, Ahlussunnah Wal-Jamaah adalah istilah yang tersusun dari tiga kata: Pertama, kata Ahl, berarti keluarga, pengikut atau golongan. Kedua, kata al-sunnah, yang memiliki dua arti kemungkinan; Segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, baik melalui perbuatan, ucapan dan pengakuan Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan, Al-thariqah (jalan dan jejak), maksudnya Ahlussunnah wal Jama’ah itu mengikuti jalan dan jejak para sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan tabi’in dalam memahami teks-teks keagamaan dan mengamalkan ajaran agama.

    Ketiga, kata al-Jamaah, yang secara kebahasaan dapat diartikan dengan sejumlah besar orang-orang yang menjalin dan menjaga kebersamaan dalam mencapai suatu tujuan yang sama, sebagai kebalikan dari al-firqah (orang-orang yang memisahkan diri dari golongannya). Dalam beberapa hadits shahih, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyebut kelompok yang selamat dengan nama al-jama’ah.

    Kata al-Jamaah menjadi identitas bagi Ahlussunnah wal Jamaah sebagai golongan yang selalu memelihara sikap kebersamaan (Persatuan dalam satu negara atau komunitas Islam Sunni, sejak Awal hingga sekarang, Sunni selalu menjadi aliran mayoritas, maka tidak berlebihan jika dikatakan mempertahankan Sunni berarti mempertahankan Islam. Oleh karena itu, jangan ada usaha-usaha mempertahankan apalagi memperjuangkan sekte-sekte minoritas seperti sekte Syi’ah, Mu’tazilah, Wahhabi dst… karena disamping paham-pahamnya yang sesat juga hanya akan menambah perpecahan dan memperkeruh keadaan).

    Kehidupan Bernegara
    Dalam kehidupan bernegara, Ahlussunnah menentukan beberapa hal berikut: Mempertahankan nilai-nilai agama Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan UUD 45 dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai negara yang sah merut hukum Internasional, atau sah merut agama Islam dalam setiap undang-undang yang tidak bertentangan dengan syari’atnya. •Mentaati dan mematuhi pemerintah atas semua peraturan dan kebijakan yang berlaku selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. •Tidak melakukan bentuk perbuatan apapun yang berakibat pada jatuhnya kewibawaan, memicu pemberontakan dan penggulingan terhadap pemerintah yang sah. •Jika pemerintah melakukan penyimpangan dari aturan agama Islam, membuat rakyat sengsara, maka harus mengingatkannya dengan cara yang baik. •Mengawal dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang melanggar syariat dan UUD 45, demi tercapainya sebuah pemerintah yang adil bersih dan berwibawa. Tradisi


    1. Dalam masalah tradisi umat Islam, Ahlussunnah memberikan batasan-batasan sebagai berikut: Meletakkan tradisi umat Islam pada posisi yang tepat serta menilai dan mengukur dengan nilai-nilai ajaran Islam. 
    2. Menerima tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan agama Islam siapa-pun yang membawa dan dari manapun datangnya.
    3. Melestarikan tradisi umat Islam lama yang lebih baik dan mengambil tradisi baru yang sesuai dengan syara.


    Nilai-Nilai Aswaja (Ahlussunnah Wal Jama'ah)
    Ahlussunah Wal Jama’ah adalah ajaran islam yang sebenarnya, seperti yang diamalkan oleh Rasulullah, sahabat-sahabatnya, dan para pengikutnya. Ada empat nilai yang menjadi watak dan sikap Ahlussunnah Wal Jama’ah sehingga mampu bertahan sampai sekarang .

    Tawasut
    Artinya, sikap tengah dan adil dalam kehidupan. Oleh karena itu, Ahlussunnah Wal Jama;ah tidak menyukai kekerasan, permusuhan, dan senantiasa menegakkan keadilan. Prinsip at-tawasuth dalam ajaran ahlusunnah waljamaah diterapkan dalam segala bidang kehidupan yang meliputi: bidang akidah, bidang syari’ah, dan bidang tasawuf.

    Nilai ASWAJA dalam Bidang akidah
    Dalam bidang akidah ahlusunnah waljamaah berpegang teguh pada nash sebagai pedoman utamanya dan menempatkan akal, ilmu dan filsafat serta logika sebagai sarana pembantu untuk memahami nash, juga bersikap wajar dalam menghadapi permasalahan, sehingga tidak terjerumus dalam sikap ekstrim dalam memutuskan segala masalah.

    Secara garis besar ajaran ahlusunnah waljamaah dalam bidang akidah dirumuskan dalam rukun iman yang meliputi:

    1. Percaya kepada Allah SWT. Menurut ajaran ahlusunnah waljamaah, percaya kepada Allah SWT artinya mempercayai bahwa Allah SWT maha kuasa, menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini. Allah SWT mempunyai sifat yang tidak terbatas banyaknya, yaitu semua sifat jamal (keindahan), sifat jalal (keagungan), dan sifat kamal (kesempurnaan). Dan bagi setiap orang islam yang akil baligh wajib mengetahui 20 sifat wajib Allah SWT dan 20 sifat mustahil serta 1 sifat jaiz Allah SWT.
    2. Percaya kepada malaikat-malaikat Allah SWT. Tentang malaikat, ahlusunnah waljamaah mengajarkan bahwa ada sesuatu makhluk halus yang dijadikan Allah SWT dari r (cahaya) tak berayah dan tak beribu, tidak laki-laki atau perempuan, bernama malaikat. Bagaimana hakikat dan bentuk malaikat itu hanya Allah SWT semata yang tahu. Jumlah malaikat itu sangat banyak dan masing-masing mempunyai tugas dari Allah SWT. Umat islam hanya diwajibkan mengetahui 10 nama malaikat dan tugas-tugas utamanya.
    3. Percaya kepada kitab-kitab Allah SWT. Tentang kitab-kitab suci, ajaran pokok ahlusunnah waljamaah adalah sebagai berikut: Allah SWT telah merunkan beberapa kitab suci kepada rasul-Nya, tetapi yang wajib diketahui hanya 4 kitab, yaitu: kitab zabur yang diturunkan kepada nabi dawud, kitab taurat yang diturunkan kepada nabi musa, kitab injil yang diturunkan kepada nabi isa, kitab al-qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad. Semua kitab suci tersebut isinya benar dan tidak boleh diragukan.
    4. Percaya kepada utusan-utusan Allah SWT.  Tentang utusan-utusan Allah SWT, ahlusunnah walajamaah berpendapat bahwa Allah SWT telah mengutus para rasul kepada umat masia. Nabi dan rasul jumlahnya ada 124.000 orang, diantaranya ada 314 orang rasul. Nabi dan rasul yang pertama adalah nabi adam dan sebagai petup para rasul adalah nabi Muhammad sesudah nabi Muhammad tidak ada lagi nabi dan rasul. Nabi dan rasul yang wajib diketahui adlah 25 orang.
    5. Percaya kepada hari akhir. Percaya kepada hari akhir artinya mempercayai bahwa kehidupan di dunia ini pada saatnya pasti berakhir, masia, binatang pasti akan mati dan semua yang ada di dunia ini pasti akan rusak dan binasa. Kemudin sesudah itu pasti ada kehidupan lagi yang abadi, masia yang mati dihidupkan kembali dan menerima pembalasan amal perbuatannya selama hidup di dunia ini.
    6. Percaya qadha dan qadar. Kata qadha merut bahasa berarti ketetapan, sedangkan kata taqdir artinya ketentuan. Apabila diperhatikan arti qadha dan qadar itu merut bahasa, maka akan didapati arti yang sama, arti keduanya baru dapat dibedakan setelah mengetahui arti qadha dan qadar merut istilah. Qadha merut istilah adalah ketetapan Allah SWT semenjak dahulu tentang apa yang terjadi di dunia dan di akhirat. Sedangkan qadar atau taqdir merut istilah adalah ketentuan perwujudan dan ketetapan ALLAH SWT di zaman azali.

    Nilai ASWAJA dalam Bidang syari’ah 
    Syari’ah arti harfiahnya adalah jalan, sedang arti istilahnya adalah hukum agama. Jelasnya, hukum yang ditetapkan ALLAH SWT untuk hamba-Nya dengan perantaraan rasul-Nya. Dalam perkembangannya para ulama’ memakai kata syari’ah diidentikkan dengan ilmu fiqih. Kaum aswaja menetapkan hukum agama dengan jalan menggali dalil-dalil al-qur’an dan assunah (hadis). Usaha dengan sungguh-sungguh mencurahkan segala kemampuan , menggali dalil-dalil untuk menetapkan suatu hukum yang disebut ijtihad. Kadang-kadang penggalian dalil al-qur’an atau hadis itu ditempuh dengan jalan qiyas atau analogi.

    Nilai ASWAJA Bidang tasawuf/ akhlaq 
    Kata akhlaq merupakan bentuk jama’ dari kata arab “khuluq” yang berarti tabiat, budi pekerti, watak, dan dalam pengertian umum sering diartikan sopan santun atau etika, moral atau kesusilaan. Akhlaq yag luhur akan menolak sikap-sikap at-thowur (teledor tanpa perhitungan) dan al-jubn (penakut), at-takabbur watadollu (terlalu tinggi menilai diri sendiri atau terlalu merendah), al-bukhl wal israf (bakhil dan boros).

    Imam al-ghazali memberikan arti akhlaq sebagai berikut: ”akhlaq adalah ungkapan tentang sikap jiwa yang menimbulkan perbuatan dahulu”. Jadi akhlaq yang berupa tingkah laku seseorang tersebut bersumber dari sikap batin atau jiwanya, tingkah laku itu begitu saja muncul tanpa dipikir panjang oleh karena dorongan batinnya dan telah dibiasakannya. Akhlaq memegang peranan penting dalam kehidupan masia, yang dapat membedakan masia dengan binatang. Sumber ajaran akhlaq merut paham ahlusunnah waljamaah adalah akhlaq dari nabi Muhammad SAW.

    Akhlaq rasul mempunyai cakupan yang sangat luas sekali, yakni berbagai hal seperti sifat sabar, sederhana, rendah hati, jujur, memgang teguh janji, suka menolong, dan lain-lain. Asal kata tasawuf, ada yang mengatakan bersal dari kata “shala” yang artinya suci, ada pula yang mengatakan berasal dari kata “shaff” berarti barisan dalam shalat dan ada pula yang berpendapat berasal dari kata yunani “sophos” artinya hikmah, akan tetapi tujuannya sama, yaitu memntingkan kebersihan batin. Orangnya disebut sufi sedang ilmunya disebut tasawuf .

    Adapun yang dimaksud tasawuf adalah perpindahan sikap mental, keadaan jiwa dari suatu keadaan kepada suatu keadaan kepada suatu keadaan lain yang lebih tinggi dan lebih sempurna, pindah dari ilmu kebendaan kea lam rohani.

    Tasamuh 
    Artinya, bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan , baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ (perbedaan fiqih) maupun dalam masalah keduniaan dan kemasyarakatan .

    Amar Ma’ruf Nahi Munkar Artinya, selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan .

    Dengan adanya empat nilai aswaja diharapkan kehidupan umat islam akan dapat terpelihara dengan baik dan terjalin secara harmonis, baik dalam lingkungan organisas , maupun dalam masyarakat.

    Tawazun 
    Artinya, sikap seimbang dalam pengabdian, baik dalam pengabdian kepada Allah swt, pengabdian kepada sesama masia maupun kepada lingkungannya. Demikian pula keseimbangan dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.

    Aktualisasi Nilai-nilai Aswaja Dalam konteks pembangunan nasional, perbincangan mengenai aktualisasi Aswaja menjadi relevan, justru karena arah pelaksaan pembangunan tidak lepas dari upaya membangunan masia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Ini berarti bahwa ia tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah (sandang, pangan, papan) semata, atau (sebaliknya) hanya membangun kepuasan batiniah saja, melainkan keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara keduanya.

    Pandangan yang mengidentifikasikan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi belaka atau dengan berdirinya industri-industri raksasa yang memakai teknologi tinggi semata, cenderung mengabaikan keterlibatan Islam dalam proses pembangunan. Pada gilirannya sikap itu membuhkan perilaku individualistis dan materialistis yang sangat bertentangan dengan falsafah bangsa kita.

    Proses pembangunan dengan tahapan pelita demi pelita telah mengubah pandangan masyarakat tradisional berangsur-angsur secara persuasif meninggalkan tradisi-tradisi yang membelenggu dinnya, kemudian mencari bentuk-bentuk lain yang membebaskan dirinya dari himpitan yang terus berkembang dan beragam. Dari satu sisi, ada perkembangan positif, bahwa masyarakat terbebas dari jeratan tradisi yang mengekang dari kekuatan feodalisme. Namun dari segi lain, sebenarnya pembangunan sekarang ini menggiring kepada jeratan baru, yaitu jeratan birokrasi, jeratan industri dan kapitalisme yang masih sangat asing bagi masyarakat.

    Konsekuensi lebih lanjut adalah, nilai-nilai tradisional digeser oleh nilai-nilai baru yang serba ekonomis. Pertimbangan pertama dalam aktivitas masia, diletakkan pada “untung-rugi” secara materiil. Ini nampaknya sudah menjadi norma sosial dalam struktur masyarakat produk pembangunan. Perbenturan dengan nilai-nilai Islami, dengan demikian tidak terhindarkan Secara berangsur-angsur etos ikhtiar menggeser etos tawakal, mengabaikan keseimbangan antara keduanya.

    Konsep pembangunan masia seutuhnya yang mentut keseimbangan menjadi terganggu, akibat perbenturan nilai itu. Karena itu pembangunan masyarakat model apa pun yang dipilih, yang tentu saja merupakan proses pembentukan atau peningkatan -atau paling tidak menjanjikan- kualitas masyarakat yang tentu akan melibatkan totalitas masia, bagaimana pun harus ditempatkan di tengah-tengah pertimbangan etis yang berakar pada keyakinan mendasar, bahwa masia -sebagai individu dan kelompok- terpanggil untuk mempertanggungjawabkan segala amal dan ikhtiarnya kepada Allah, pemerintah dan masyarakat lingkungan sesuai dengan ajaran dan petunjuk Islam.

    Masia yang hidup dalam kondisi seperti terurai di atas dituntut agar kehidupannya bermakna. Ia sebagai khalifah Allah di atas bumi ini justru mempunyai fungsi ganda, pertama ‘ibadatullah yang kedua ‘imaratu al-ardl. Dua fungsi yang dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Bahkan fungsi yang kedua sangat rnempengaruhi kualitas fungsi yang pertama dalam rangka rnencapai tujuan hidup yakni sa’adatud darain. Makna hidup masia akan tergantung pada kemampuan melakukan fungsinya sesuai dengan perkembangan kehidupan yang selalu berubah seiring dengan transformasi kultural yang mentut pengendalian orientasi dan tata nilai yang Islami.

    Dalam konteks ini, Aswaja harus mampu mendorong pengikutnya dan umat pada umumnya agar mampu bergaul dengan sesamanya dan alam sekitarnya untuk saling memasiawikan. Aswaja juga harus menggugah kesadaran umat terhadap ketidakberdayaan, keterbelakangan serta kelemahan mereka yang merupakan akibat dari suatu keadaan dan peristiwa kemasiaan yang dibuat atau dibentuk oleh masia yang sudah barang tentu dapat diatasi oleh masia pula.

    Tentu saja, pembuhan kesadaran tersebut masih dalam konteks melaksanakan ajaran Islam Aswaja, agar mereka tidak kehilangan nilai-nilai Islami. Justru malah potensi ajaran Islam Aswaja dikembangkan secara aplikatif ke dalam proses pengembangan masyarakat. Pada gilirannya pembangunan masia seutuhnya akan dapat dicapai melalui ajaran Islam Aswaja yang kontekstual di tengah-tengah keragaman komunitas nasional.

    Untuk melakukan pembangunan masyarakat sekarang mau pun esok, pendekatan yang paling tepat adalah yang langsung mempunyai implikasi dengan kebutuhan dari aspek-aspek kehidupan. Karena dengan demikian masyarakat terutama di pedesaan akan bersikap tanggap secara positif.

    Kondisi dinamis sebagai kesadaran yang muncul, merupakan kesadaran masyarakat dalam transisi yang perlu diarahkan pada pemecahan masalah, pada gilirannya mereka di sarnping menyadari tema-tema zamannya juga membuhkan kesadaran kritis. Kesadaran ini akan meningkatkan kreativitas, menambah ketajaman menafsirkan masalah dan sekaligus menghindari distorsi dalam memahami masalah itu. Kesadaran kritis ini memungkinkan masyarakat memahami faktor-faktor yang melingkupi aktivitasnya dan kemudian mampu melibatkan diri atas hal-hal yang membentuk masa depannya.

    Kebutuhan akan rumusan konsep aktualisasi Islam Aswaja, menjadi amat penting adanya. Konsep itu akan menyambung kesenjangan yang terjadi selama ini, antara aspirasi keagamaan Islam dan kenyataan ada. Suatu kesenjangan yang sangat tidak menguntungkan bagi kaum muslimin dalam proses pembangunan masyarakat, yang cenderung maju atas dorongan inspirasi kebutuhan hidup dari dimensi biologis semata. Merumus kan konsep-konsep yang dimaksud, memang tidak semudah diucapkan. Identifikasi masalah-masalah sosial secara general dan spesifik masih sulit diupayakan, sehingga konsep aktualisasi secara utuh pun tidak mudah diformulasikan. Akan tetapi secara sektoral aktualisasi itu dapat dikonseptualisasikan secara jelas dalam konteks pendekatan masalah yang dilembagakan secara sistematis, terencana dan terarah sesuai dengan strategi yang ingin dicapai.

    Kemampuan melihat masalah, sekaligus kemampuan menggali ajaran Islam Aswaja yang langsung atau tidak langsung bisa diaktualisasikan dalam bentuk kegiatan implementatif yang dilembagakan, menjadi penting. Masalah yang sering disinggung oleh berbagai pihak dan menarik perhatian adalah keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan yang ada pada garis lingkarbalik (daur). Rumusan Khittah 26 pasal ke-6 juga menyinggung keprihatinan atas masia yang terjerat oleh tiga masalah itu.

    Aktualisasi Islam Aswaja dalam hal ini merut rumusan yang jelas, adalah sebagai konsep motivator untuk membubsuburkan kesadaran kritis dan membangkitkan kembali solidaritas sosial di kalangan umat yang kini cenderung melemah akibat perubahan nilai yang terjadi.

    Dari sisi lain, ada yang menarik dari konsep Aswaja mengenai upaya penanggulangan kemiskinan. Konsep ini sangat potensial, namun jarang disinggung, bahkan hampir-hampir dilupakan. Yaitu bahwa orang muslim yang mampu berkewajiban menakahi kaum fakir miskin, bila tidak ada baitul mal al muntadzim. Konsep ini mungkin perlu dilembagakan. Dan masih banyak lagi konsep-konsep ibadah sosial dalam Islam Aswaja yang mungkin dilembagakan sebagai aktualisasinya.

    Ajaran Islam Aswaja bukan saja sebagai sumber nilai etis dan masiawi yang bisa diintegrasikan dalam pembangunan masyarakat, namun ia secara multi dimensional sarat juga dengan norma keselarasan dan keseimbangan, sebagaimana yang dituntut oleh pembangunan. Dari dimensi sosial misalnya, Islam Aswaja mempunyai kaitan yang kompleks dengan masalah-masalah sosial. Karena syariat Islam itu sendiri, justru mengatur hubungan antara masia individu dengan Allah, antara sesama masia dan antara masia dengan alam lingkungannya.

    Hubungan yang kedua itu terumuskan dalam prinsip mu’amalah yang bila dijabarkan mampu membongkar kelemahan sekaligus memberi solusi bagi paham kapitalisme dan sosialisme. Konsep itu terumuskan dalam prinsip mu’asyarah yang tercermin dalam berbagai dimensi hubungan interaktif dalam struktur sosial yang kemudian dipertegas oleh rumusan Khittah 26 butir empat, tentang sikap kemasyarakatan sebagai aktualisasinya.

    Tentang hubungan ketiga antara masia dengan alam lingkungannya terumuskan dalam prinsip kebebasan mengkaji, mengelola dan memanfaatkan alam ini untuk kepentingan masia dengan tata keseimbangan yang lazim, tanpa sikap ishraf (melampaui batas) dan tentu saja dengan lingkungan maslahah. Dalam pengelolaan dan pemanfaatan alam itu tentu saja berorientasi pada prinsip mu’asyarah maupun mu’amalah yang menyangkut berbagai bentuk kegiatan perekonomian yang berkembang. Berarti diperlukan konsep mu’amalah secara utuh yang mampu mengadaptasikan perkembangan perekonomian dewasa ini sebagai aktualisasi ajaran Islam Aswaja.

    Oleh karena itu, pelis berpandangan bahwa solusi yang harus dilakukan dalam mencegah meluasnya gerakan radikalisme agama atau gerakan Islam garis keras, di antaranya adalah dengan mengaktualisasikan kembali nilai-nilai Aswaja ke dalam masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan. Aktualisasi berarti menghidupkan dan mempraksiskan kembali nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, agar mendapatkan elan vitalnya, manfaat bagi terbangunnya kehidupan yang damai dan negara Indonesia yang kokoh khususnya, dan perdamaian dunia pada umumnya.

    Dengan cara demikian, diharapkan gerakan Islam garis keras tidak semakin meluas. Demikikian pula genarasi muda diharapkan menjadi warga negara yang menjungjung tinggi nilai-nilai Aswaja yang mencerminkan Piagam Madinah dan sekaligus sejalan dengan konstitusi UUD 1945, falsafah Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

    Aktualisasi nilai-nilai Aswaja secara lebih rinci dan menjadi upaya yang penting untuk dilakukan dalam mencegah meluasnya gerakan radikalisme agama atau gerakan Islam garis keras adalah sebagai berikut:

    1. Mencegah berkembang dan meluasnya ideologi Wahabi/manhaj Salaf ”ortodok”. 
    2. Kontekstualisasi Islam, yakni memahami ajaran Islam agar kontekstual, relevan diterapkan dalam konteks kehidupan majemuk dan modern. Contohnya kontekstualisasi makna jihâd. Jihad dalam konteks modern dapat mengambil bentuk jihad humanis: jihad di bidang pendidikan, ekonomi dan social kemasyarakatan. Jihâd dalam arti perang pada kondisi normal, maupun dalam bentuk terorisme dan kekerasan tidaklah sejalan dengan tujuan Islam.
    3. ”Pribumisasi” Islam dalam menghadapi arabisme/arabisasi, yakni tidak menjadikan konteks Arab sebagai tolok ukur keberislaman atau pelaksanaan ajaran Islam dalam berbagai sendi kehidupan, namun memahami Islam dengan memperhatikan pula situasi dan kondisi lokal yang melingkupinya. Lebih khusus lagi, dalam melakukan pribumisasi Islam itu, dengan cara mengadaptasi dan menghargai budaya lokal, seperti budaya ”selametan”, tahlilan, dan ”marhabanan” (pembacaan al-Barzanzî yang berisi tentang kisah kelahiran, keutamaan, puji-pujian pada dan tauladan Nabi Muhammad Saw.)
    4. Menekankan dan mempromosikan paradigma berpikir substantive dalam menghadapi meluasnya paradigma berpikir literalis dan skripturalis, formalistik dan simbolistik. 
    5. Mengedepankan nilai-nilai Islam (Islam substantif) atau maqâshid al-Syarî`ah (tujuan-tujuan hukum Islam/ajaran Islam), seperti keadilan, kemoderatan, dan toleransi daripada simbol-simbol fisik yang beransa religius. Aktualisasi Nilai-nilai Aswaja 
    6. Mengedepankan penyelesaian masalah secara demokratis, musyawarah dan melalui jalur hukum dan tidak main hakim sendiri, apalagi menggunakan jalur kekerasan. 
    7. Mengedapankan dakwah bi al-hâl, dengan metode/pendekatan bi al-hikmah (bijaksana), nasehat yang baik (mau’izhah hasanah) dan perdebatan yang fair (al-mujâdalah bi al-lati hiya ahsan): argumentatif, rasional, realistik, seobyektif mungkin dan proporsional. Dengan ungkapan lain, harus menekankan dakwah yang kontekstual, moderat, inklusif, bukan dakwah yang parsial namun dakwah yang komprehensif dan yang memberdayakan umat. Model dakwah yang kontekstual ini misalnya telah dicontohkan oleh Syaikh `Abd al-Qâdir al-Jaylânî dalam memahami teks hadis Nabi riwayat Abû Sa`îd al-Khudzrî tidak secara letterlijk, namun memahaminya dengan berpijak pada maqâshid al-Syarî`ah, mengarah pada tercapainya rahmat, yang tercermin dalam kehidupan harmonis, toleran, terwujudnya perdamaian, dan kesejahteraan. 
    8. Mengedepankan paradigma ”tashwîb”, yang menyatakan bahwa madzhabî shawwâb yumkin al-khathâ’, wa madzhabu ghayrî khatha’ yumkin al-shawwâb (aliran/pandangan kelompokku adalah benar namun bisa jadi salah, dan aliran/pandangan selainku aalah salah namun bisa jadi benar). Artinya tidak truth claim, sebagai satu-satunya kebenaran yang otoritatif atau mutlak.
    9. Membuat, memperkuat dan melebarkan sayap jaringan komunitas Islam moderat. Di antara jaringan Islam moderat sudah dirintis tahun 2004-an adalah CMM (Center for Moderate Muslim).28


    Kesimpulan 
    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aksi kekerasan dalam berbagai bentuknya yang sering terjadi di Indonesia yang dilakukan oleh gerakan Islam garis keras didasarkan dengan mengatasnamakan agama/jihad atau amar ma’ruf nahi mungkar.

    Aksi kekerasan tersebut sesungguhnya sangatlah berlawanan dengan ajaran Islam yang mulia seperti kedamaian dan persaudaraan. Demikian juga aksi kekerasan tersebut tidak sejalan dengan Piagam Madinah, Konstitusi Negara RI (UUD 1945), falsafah bangsa (Pancasila) dan semboyang bangsa (Bhineka Tunggal Ika). Dalam konteks ini, nilai-nilai Aswaja, berupa keadilan, kesetaraan, persaudaraan dan toleransi, karena sejalan dengan Piagam Madinah, UUD 1945, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika, menjadi penting diaktualisasikan dalam mencegah semakin meluasnya gerakan Islam garis keras. Aktualisasi nilai-nilai

    Aswaja itu dapat menjadi salah satu solusi untuk mencegah maraknya aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Aktualisasi nilai-nilai Aswaja itu dilakukan dalam berbagai bentuknya, baik dalam ranah paradigmatik atau pola pikir maupun dalam ranah aplikatifnya. Mulai dari transformasi paradigma/pola pikir pemahaman keagamaan yang moderat hingga dakwah praksis yang moderat, dan pemecahan problem umat dan bangsa secara moderat pula, baik melalui jalur politik maupun sosialkemasyarakatan.

    Sumber Referensi: 
    https://sites.google.com/site/pustakapejaten/ahlus-sunnah-wal-jama-ah/aktualisasi-nilai-nilai-aswaja
    https://ribathdeha.wordpress.com/2018/01/27/nilai-nilai-aswaja-dalam-kehidupan-pluralitas-kebangsaan/
    https://www.ruangilmiah.com/2015/05/nilai-nilai-aswaja-ahlussunnah-wal.html
    https://www.academia.edu/12674688/Aktualisasi Nilai-nilai Aswaja dalam Mencegah Radikalisme Agama

    Artikel Terkait:
    Bagi Anda yang ingin mendapatkan notifikasi update setiap harinya silahkan bergabung WhatsApp Group Gabung Sekarang
    Comment Sekarang