-->

Tutorial

  • Android
  • Blogger
  • Pendidikan
  • Printer
  • Komputer
  • MedSos
  • Hubungan dagang bangsa Indonesia dengan bangsa India pada awal abad Masehi menyebabkan pengaruh budaya India masuk ke Indonesia. Sistem kasta, tradisi tulis, dan bangunan candi merupakan beberapa contoh pengaruh budaya India di Indonesia. Masyarakat Indonesia juga mulai mengenal sistem kerajaan. Pada sistem kerajaan di Indonesia, kepala pemerintahan tidak dipegang oleh kepala suku yang bergelar datu/datuk atau ratu/ raka, tetapi dipegang oleh seorang raja yang bergelar prabu, raja, atau maharaja. Raja dianggap sebagai keturunan dewayang harus disembah oleh bawahan dan rakyatnya. Oleh karena itu, raja memiliki hak mutlak dalam kegiatan pemerintahan. Corak kerajaan pada masa ini mengikuti agama yang dianut oleh raja dan keluarga kerajaan.

    Dalam perkembangannya, sistem kerajaan tersebut menyebar di beberapa wilayah Indonesia seperti Kalimantan, Jawa, dan Sumatra. Kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha merupakan salah satu bukti adanya pengaruh kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Setiap kerajaan dipimpin oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan mutlak dan turun-temurun. Kerajaan-kerajaan itu antara lain:

    1.   Kerajaan Kutai (Abad IV-XIV Masehi)

    Kerajaan kutai merupakan kerajaan hindu tertua di Indonesia. Kerjaan ini diperkirakan telah berkembang sejak abad IV Masehi. Keberadaan Kerajaan Kutai dapat diketahui dari tujuh buah prasasti Yupa yang ditemukan di Muarakaman, tepi sungai Mahakam. Nama Kutai diambil dari nama daerah ditemukannya ketujuh prasasti tersebut, yaitu di daerah Kutai, Kalimantan Timur. Nama Kutai diberikan karena tidak ada prasasti yang menyebutkan nama asli dari kerajaan yang berpusat di Kalimantan Timur itu.

    a.    Kondisi Geografis

    Kerajaan Kutai diperkirakan terletak di tepi Sungai Mahakam dan berpusat di Muara Kaman. Sungai Majjakam merupakan sungai terbesar di Kalimantan dan bermuara di selat Makassar. Sejak dahulu Sungai menjadi sumber penghidupan bagi penduduk di sekitamya. Sungai Mahakam dimanfaatkan sebagai sumber air untuk perikanan, pertanian, dan sarana transportasi. Ramainya aktivitas masyarakat di tepi Sungai Mahakam ini diduga menjadi faktor penyebab munculnya Kerajaan Kutai.

    b.    Kehidupan Politik

    Raja pertama yang memimpin Kerajaan Kutai adalah Kudungga. Kudungga diduga belum menganut agama Hindu karena nama Kudungga merupakan nama asli Indonesia. Nama ini memiliki kemiripan dengan nama Raja Bugis, yaitu Kadungga. Oleh karena itu, para ahli memperkirakan bahwa pada masa pemerintahan Raja Kudungga, pengaruh agama Hindu di Kerajaan Kutai belum kuat. Pada awalnya Kudungga adalah seorang kepala suku. Akan tetapi, setelah pengaruh Hindu masuk di Indonesia dan sistem pemerintahan kesukuan berubah menjadi kerajaan, Kudungga mendeklarasikan dirinya sebagai seorang raja. Selain itu, Kudungga memutuskan bahwa pergantian kekuasaan di Kutai harus dilakukan secara turun-temurun sebagaimana sistem kerajaan pada umumnya. Setelah Kudungga wafat, ia digantikan oleh putranya yang bernama Aswawarman Kemudian digantikan oleh Mulawarman.

    c.    Kehidupan Ekonomi

    Perekonomian Kerajaan Kutai menggantungkan pada keberadaan Sungai Mahakam. Berdasarkan beberapa bukti yang ditemukan dapat diketahui bahwa perekonomian Kerajaan Ktuai terletak pada sector perdagangan, pertanian, dan peternakan.

    d.    Kondisi Sosial Budaya

    Perkembangan agama Hindu telah membawa pengaruh besar bagi kehidupan sosial masyarakat Kutai. Sebagai agama resmi kerajaan, agama Hindu menjadi pegangan hidup bagi para penganutnya. Penganut Hindu di Kerajaan Kutai mulai menerapkan sistem kasta dalam kehidupan sosial. Akan tetapi, sistem kasta yang diterapkan di Kutai tidak seketat di India. Masyarakat India mengenal empat golongan dalam sistem kasta, yaitu brahmana, kesatria, waisya, dan sudra. Sementara itu, masyarakat Kutai hanya mengenal dua kasta, yaitu brahmana dan kesatria.

    2.    Kerajaan Tarumanegara (Abad IV—VII Masehi)

    Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa. Kerajaan Tarumanegara berkembang di wilayah Jawa Barat pada abad IV—VII Masehi. Keberadaan Kerajaan Tarumanegara dapat diketahui dari sumber-sumber sezaman seperti: Prasasti tugu, prasasti ciaruteun, prasasti kebun kopi, prasasti muara cianten, prasasti jambu, prasti cidanghilang, prasasti pasir awli.

    a. Kondisi Geografis

    Di mana letak Kerajaan Tarumanegara? Para ahli memperkirakan letak Kerajaan Tarumanegara berada di daerah Bogor. Pendapat ini muncul karena dari tujuh prasasti yang dibuat pada masa Kerajaan Tarumanegara, lima di antaranya ditemukan di daerah Bogor. Fakta ini menunjukkan bahwa Bogor merupakan daerah yang penting bagi perkembangan Tarumanegara. Daerah Bogor diduga pernah menjadi ibu kota atau pusat Kerajaan Tarumanegara.

    b. Kehidupan Politik

    Para ahli memperkirakan Kerajaan Tarumanegara merupakan kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara. Menurut naskah wangsakerta dari Cirebon, Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman padatahun 358. Jayasingawarman memerintah Tarumanegara hingga tahun 382. Setelah Jayasingawarman wafat, kedudukannya digantikan oleh Dharmayawarman (382-395 Masehi).

    c. Kehidupan Ekonomi

    Kerajaan Tarumanegara terletakdi pedalaman Jawa Barat. Oleh karena itu, sebagian besar perekonomiannya bertumpu pada sektor pertanian dan peternakan. Pada masa pemerintahan Purnawarman sektor pertanian mengalami perkembangan pesat. Dalam prasasti : Tugu disebutkan bahwa Raja Purnawarman pernah memerintahkan rakyatnya untuk membuat saluran Gomati sepanjang 6.112 tombak (12 km). Pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dalam waktu 21 hari. Pembangunan saluran Gomati mempunyai arti ekonomis bagi rakyat Tarumanegara. Selain berguna sebagai sarana pengairan dan pencegahan banjir, saluran Gomati berfungsi sebagai sarana lalu lintas pelayaran antar daerah.

    d. Kehidupan Agama

    Agama Hindu yang berkembang di Kerajaan Tarumanegara adalah Hindu Waesnawa atau Hindu Wisnu. Bukti ini terpahat pada prasasti Ciaruteun. Pada prasasti Ciaruteun terdapat jejak telapak kaki Raja Purnawarman yang melambangkan penjelmaan Dewa Wisnu. Bagi penganut Waesnawa, Dewa Wisnu dianggap dewa tertinggi. Di Tarumanegara agama Hindu Waesnawa hanya berkembang di kalangan istana atau keluarga dan kerabat kerajaan. Sementara itu, sebagian besar penduduk Tarumanegara masih menganut kepercayaan asli nenek moyang (animisme dan dinamisme).

    e. Kondisi Sosial Budaya

    Kehidupan sosial Kerajaan Tarumanegara sudah rapi dan teratur. Keteraturan tersebut ditunjukkan dengan adanya upaya Raja Purnawarman meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyat. Raja Purnawarman juga memperhatikan kedudukan kaum brahmana dalam setiap pelaksanaan upacara kurban.

    Secara sosial, masyarakat Tarumanegara terbagi atas dua golongan, yaitu golongan masyarakat yang berlatar belakang agama Hindu dan golongan masyarakat yang berbudaya asli. Masyarakat yang berlatar belakang Hindu umumnya merupakan keluarga/kerabat kerajaan. Sementara itu, sebagian besar masyarakat Tarumanegara masih menganut kebudayaan asli.

    3.   Kerajaan Kaiingga/Holing (VI—VII Masehi)

    Kerajaan Kalingga/ Holing merupakan kerajaan tertua di Jawa setelah Tarumanegara. Keberadaan kerajaan Kalingga diketahui dari beritaTiongkok pada masa Dinasti Tang. Menurut beritaTiongkok tersebut, Raja Ta Cheh mengutus pasukannya ke sebuah negeri di selatan yang disebut dengan Holing pada tahun 666, 767, 768, dan 813 Masehi.

    a.    Kondisi Geograf is

    Hingga saat ini letak wilayah Kerajaan Kalingga masih diperdebatkan oleh para sejarawan. Perdebatan ini muncul karena beritaTiongkok dari Dinasti Tang menyatakan bahwa pada pertengahan musim panas apabila orang mendirikan gnomon setinggi 8 kaki, bayangannya akan jatuh ke selatan dengan panjang dua kaki empat inci. Gnomon adalah alat untuk menentukan letak ketinggian matahari yang digunakan pada zaman kuno. Berdasarkan perhitungan tersebut, letak Kalingga berada pada posisi 6°8'LU dan tidak mungkin berada di Jawa.

    b. Kehidupan Politik

    Pusat Kerajaan Kalingga terletak di She-p'o. Kerajaan ini membawahi 28 kerajaan kecil yang diberi kebebasan dalam mengatur pemerintahannya sendiri. Akan tetapi, mereka harus tunduk pada peraturan kerajaan dan mengakui sebagai kerajaan bawahan Kerajaan Kalingga serta menyerahkan upeti setiap tahun. Penguasa kerajaan kecil tersebut merupakan kerabat dekat Kerajaan Kalingga.

    c. Kehidupan Ekonomi

    Perekonomian Kerajaan Kalingga bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian. Letaknyayang berada di pesisir utara Jawa bagian tengah menyebabkan sektor perdagangan maritim dapat berkembang di Kalingga. Komoditas perdagangan Kalingga antara lain kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading. Sementara itu, wilayah pedalaman yang subur dimanfaatkan penduduk untuk mengembangkan kegiatan pertanian. Hasil-hasil pertanian Kerajaan Kalingga antara lain beras dan minuman. Selain berdagang dan bertani, sebagian penduduk Kalingga dikenal pandai membuat minuman yang berasal dari bunga kelapa dan bunga aren.

    d. Kehidupan Agama

    Pada masa kejayaannya, Kerajaan Kalingga menjadi pusat agama Buddha di Jawa. Agama Buddha yang berkembang di Kalingga merupakan ajaran Buddha Hinayana. Pada tahun 664 seorang pendeta Buddha dari Tiongkok bernama Hwi-ning berkunjung ke Kalingga. Kedatangannya di Kalingga untuk menerjemahkan sebuah naskah terkenal agama Buddha Hinayana dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Tiongkok. Usaha Hwi-ning tersebut dibantu oleh seorang pendeta Buddha dari Jawa bernama Janabadra.

    e. Kehidupan Sosial Budaya

    Kehidupan sosial masyarakat Kalingga dapat diketahui dari catatan l-Tsing. Dalam catatannya, l-Tsing menjelaskan keterangan sebagai berikut.

    1. Ibu kota Kerajaan Kalingga dikelilingi benteng yang terbuat dari tonggak kayu.
    2. Raja tinggal di istana kerajaan yang terdiri atas bangunan bertingkat, memiliki atap dari pohon aren, dan singgasana dari gading gajah.
    3. Penduduk Kalingga sangat pandai membuat arak dari nila pohon kelapa.

    Penduduk Kalingga memiliki kehidupan yang teratur. Ketertiban dan ketenteraman sosial di wilayah Kerajaan Kalingga berjalan dengan baik berkat kepemimpinan Ratu Sima yang tegas dan bijaksana dalam menjalankan hukum dan pemerintahan. Dalam menegakkan hukum, Ratu Sima berlaku adil. la menegakkan hukum tanpa memandang status sosial.

    4.    Kerajaan Sriwijaya (Abad VII—XIII Masehi)

    Kerajaan Sriwijaya berkembang di Sumatera pada abad VII – XIII Masehi. Keberadaan kerajaan Sriwijaya diketahui dari  berbagai sumber sejarah sebagai berikut: Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Talang Tuo, Prasasti Telaga Batu, Prasasti Kota Kapur, Prasasti Karang Berahi.

    a. Kondisi Geograf is

    George Coedes menyatakan letak Kerajaan Sriwijaya berada di tepi Sungai Musi atau sekitar Bukit Siguntang dan Kota Palembang, Sumatra Selatan. Sungai Musi merupakan sungai terpanjang di Sumatra Selatan. Selain dimanfaatkan untuk irigasi pertanian, Sungai Musi digunakan untuk kegiatan perikanan. Beragam jenis ikan hidup di sungai ini dengan populasi cukup untuk menyuplai kebutuhan protein hewani bagi masyarakat di sekitarnya. Sungai Musi menjadi sarana transportasi utama bagi masyarakat Sriwijaya. Dari daerah ini Kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Pada masa puncak kejayaannya, wilayah kekuasaan Sriwijaya meliputi Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.

    c. Kondisi Politik

    Nama "Sriwijaya" pertama kali dijumpai pada prasasti Kota Kapur. Dalam bahasa Sanskerta, nama "Sriwijaya" memiliki arti kemenangan yang bercahaya (kata "sri" berarti bercahaya dan "wijaya" berarti kemenangan). Pada awalnya Sriwijaya hanya berupa kerajaan kecil. Keterangan ini diperoleh dari catatan l-Tsing yang mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671. Pada saat itu di Selat Malaka terdapat tiga kerajaan, yaitu Sriwijaya, Melayu, dan Kedah. Akan tetapi, saat l-Tsing mengunjungi Sriwijaya pada tahun 695 Kerajaan Melayu dan Kedah sudah menjadi kerajaan bawahan Sriwijaya. Kemungkinan antara tahun 684-685 Kerajaan Kedah sudah ditaklukkan oleh Sriwijaya.

    d.    Keadaan Ekonomi

    Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional di Asia Tenggara. Pada masa kejayaannya, Sriwijaya berhasil menguasai Selat Malaka, Tanah Genting Kra, dan Selat Sunda yang menjadi urat nadi perdagangan di AsiaTenggara. Bandar Sriwijaya berkembang menjadi pelabuhan transito yang ramai disinggahi kapal-kapal asing untuk mengambil airminum dan perbekalan makanan, serta melakukan aktivitas perdagangan. Kerajaan Sriwijaya memperoleh banyak keuntungan dari komoditas ekspor dan pajak kapal asing yang singgah di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya.

    e. Kehidupan Agama

    Kerajaan Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat pengajaran agama Buddha. Agama Buddha yang berkembang di Sriwijaya adalah aliran Mahayana. Menurut laporan l-Tsing, pada abad VII Masehi di Sriwijaya terdapat seribu biksu yang belajar agama Buddha di bawah bimbingan Sakyakirti. Sakyakirti merupakan salah satu dari tujuh cendekiawan agama Buddha yang hidup pada masa l-Tsing. Selain mengajar agama Buddha, Sakyakirti menyusun kitab undang-undang berjudul Hastadandacastra. Kitab ini kemudian diterjemahkan oleh l-Tsing dalam bahasa Tiongkok.

    f. Kondisi Sosial Budaya

    Dari berbagai sumber sejarah dapat diketahui bahwa pada abad VII Masehi kehidupan masyarakat Sriwijaya sangat dipengaruhi oleh alam pikir ajaran Buddha Mahayana. Hubungan antara raja dan rakyatnya berlangsung harmonis. Informasi keharmonisan hubungan ini tertulis pada beberapa prasasti yang dibuat pada abad VII Masehi. Prasasti Talang Tuo yang berangka tahun 684 menggambarkan ritual Buddha untuk memberkati peresmian taman Sriksetra. Taman ini dianggap sebagai anugerah dari Maharaja Sriwijaya kepada rakyatnya.

    5.    Kerajaan Mataram Kuno (Abad VIII—X Masehi)

    Kerjaan Mataram Kuno merupakan kerajaan Hindu-Budha yang berkembang di Jawa Tengah pada abad VIII Masehi. Kerajaan ini didirikan oleh Sanaha dari Galu, Jawa Barat. Pusat pemerintathan kerajaan Mataram Kuno disebut Bhumi Mataram yang terletak di Pedalaman Jawa Tengah. Pada masa pemerintahan Sanjaya, kerajaan mataram kuno merupakan kerajaan bercorak hindu. Akan tetapi setelah Sanjaya wafat agama budha mulai berkembang pesat di Bhumi Mataram.

    a. Kondisi Geograf is

    Kerajaan Mataram Kuno terletak di pedalaman JawaTengah yang terbentang di tiga daerah, yaitu Kedu, Yogyakarta, dan Surakarta. Wilayah tersebut memiliki kondisi geografis yang unik. Bhumi Mataram dikelilingi oleh jajaran gunung dan pegunungan. Di antara jajaran gunung dan pegunungan tersebut mengaiir sungai-sungai besar seperti Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo, dan Sungai Bengawan Solo. Sebagian besar kondisi tanah di Bhumi Mataram merupakan tanah aluvial dan vulkanik yang berasal dari endapan material sungai dan gunungapi. Tanah seperti ini sangat subur sehingga cocok untuk aktivitas pertanian.

    b. Kehidupan Politik

    Salah satu bukti yang menunjukkan eksistensi Kerajaan Mataram Kuno adalah prasasti Canggal yang berangka tahun 732. Berdasarkan prasasti ini, pada awalnya Kerajaan Mataram dipimpin oleh Sanaha. Setelah Sanaha wafat, tampuk kekuasaan dipegang oleh Sanjaya. Sanjaya merupakan pendiri Dinasti Sanjaya di Kerajaan Mataram. Sanjaya merupakan penganut Hindu Syiwa yang taat. Oleh karena itu, raja-raja Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya juga menganut agama Hindu Syiwa.

    c. Kehidupan Ekonomi

    Kerajaan Mataram Kuno menggantungkan kegiatan perekonomiannya pada sektor pertanian. Wilayah Mataram Kuno memiliki kondisi tanah yang subur sehlngga cocok digunakan untuk kegiatan pertanian. Perdagangan merupakan salah satu sumber Usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan penghasilan terbesar Kerajaan Mataram Kuno

    d. Kehidupan Agama

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Kerajaan Mataram diperintah oleh dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Kedua dinasti tersebut memiliki kebudayaan berbeda. Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu Syiwa berkuasa di utara, sedangkan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha Mahayana berkuasa di selatan. Kedua agama tersebut dapat hidup berdampingan. Pembauran ini terlihat dengan adanya pemikahan politik antara Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya) dan Pramodhawardhani (Dinasti Syailendra). Pemikahan tersebut selain bertujuan untuk menyatukan Kerajaan Mataram secara politik juga untuk menjaga toleransi kehidupan di antara para pemeluk agama Hindu-Buddha di Mataram.

    e.    Kondisi Sosial Budaya

    Masyarakat Mataram Kuno menerapkan sistem feodal dalam kehidupan sehari-harinya. Seluruh kekayaan yang ada di tanah kerajaan adalah milik raja dan rakyat wajib membayar upeti kepada raja. Dalam struktur sosial, golongan raja dan bangsawan menduduki peringkat atas. Raja beserta keluarganya tinggal di istana. Menurut berita dari Tiongkok, istana Kerajaan Mataram Kuno dikelilingi dinding dari batu bata dan kayu. Di luar dinding istana terdapat kediaman para pejabat tinggi kerajaan beserta keluarganya. Mereka tinggal dalam perkampungan khusus di sekitar istana. Para hamba dan budak yang dipekerjakan di istana juga tinggal di tempat ini. Selanjutnya, di luar dinding kota terdapat per¬kampungan rakyat. Rakyat hidup di desa-desa yang disebut Wanua. Selain golongan bangsawan dan rakyat, di Mataram Kuno terdapat golongan pedagang asing. Para pedagang asing tersebut kemungkinan besar merupakan kaum migran dari Tiongkok.

    6.   Kerajaan Kediri (Abad XI—XIII Masehi)

    Kerajaan Kediri yang berdiri pada abad XI Masehi merupakan kelanjutan dari kerajaan Medang Kamulan yang didirikan oleh Mpu Sindok dari Dinasti Isyana. Pada akhir kekuasaan Raja Airlangga wilayah kerajaan Medang Kamulan dibagi menjadi dua, yaitu Jenggala dan Panjalu. Pembagian wilayah tersebut dilakukan oleh Empu Bharada, seorang brahmana yang terkenal kaerna kebijaksanaan dan kesaktiannya. Empu Bharada menentukan daerah kekuasaan kerajaan Jenggala meliputi Malang dan Delta Sungai Rantas dengan pelabuhannya di Surabaya, Rembang, dan Pasuruan. Kerajaan Jenggala beribukota di Kahuripan.

    a.    Kondisi Geografis

    Kerajaan Kediri terletak di pedalaman JawaTimur. Oleh karena itu, kegiatan perekonomian Kediri sangat bergantung pada Sungai Brantas. Pada masa Kerajaan Kediri Sungai Brantas sudah menjadi jalur pelayaran yang ramai. Masyarakat Kerajaan Kediri memantaatkan Sungai Brantas untuk mengembangkan sistem pertanian sawah dengan irigasi yang teratur. Adanya beberapa gunungapi yang aktif di bagian hulu sungai seperti Gunung Kelud dan Gunung Semeru menyebabkan banyak material vulkanik yang mengalir ke Sungai Brantas. Material vulkanik tersebut meningkatkan kesuburan tanah di sekitar aliran sungai. Kesuburan tanah tersebut menjadi modal besar bagi Kerajaan Kediri untuk mengembangkan pertaniannya.

    b.    Kehidupan Politik

    Samarawijaya merupakan raja pertama Kerajaan Kediri. Selama memerintah Raja Kediri, Samarawijaya selalu berselisih dengan saudaranya, Mapanji Garasakan yang berkuasa di Jenggala. Keduanya merasa berhak atas seluruh takhta Raja Airlangga (Kerajaan Medang Kamulan) yang meliputi hampir seluruh wilayah JawaTimur dan sebagian JawaTengah. Perselisihan antara Samarawijaya dan Mapanji Garasakan akhirnya menimbulkan perang saudarayang berlangsung hinggatahun 1052. Dalam perang saudara tersebut Samarawijaya berhasil menaklukkan Jenggala. Puncak kejayaan Kerajaan Kediri terjadi pada masa pemerintahan Jayabaya (1135-1157).

    c. Kehidupan Ekonomi

    Kerajaan Kediri menggantungkan kegiatan perekonomian pada sektor pertanian dan perdagangan. Sebagai kerajaan agraris, Kediri memiliki lahan pertanian yang baik di sekitar Sungai Brantas. Pertanian Kediri menghasilkan banyak beras dan menjadikannya sebagai komoditas perdagangan utama. Sektor perdagangan Kediri dikembangkan melalui jalur pelayaran Sungai Brantas. Selain beras, barang-barang yang diperdagangkan di Kediri antara lain emas, perak, kayu cendana, rempah-rempah, dan pinang.

    d. Kehidupan Agama

    Masyarakat Kediri dikenal sangat religius. Mereka hidup berdasarkan ajaran agama Hindu Syiwa. Hal ini terlihat dari berbagai peninggalan arkeologi yang ditemukan di wilayah Kediri. Peninggalan tersebut berupa area-area di candi Gurah dan candi Tondowongso. Area-area tersebut menunjukkan latar belakang agama Hindu Syiwa. Para penganut agama Hindu Syiwa menyembah Dewa Syiwa. Dewa Syiwa dipercaya dapat menjelma menjadi Syiwa Maha Dewa (Maheswara), Dewa Maha Guru, dan Makala. Salah satu bentuk pemujaan terhadap Dewa Syiwa yang dilakukan oleh para pendeta adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut Mantra Catur Dasa Syiwa atau empat belas wujud Syiwa.

    e. Kehidupan Sosial Budaya

    Pada masa pemerintahan Jayabaya, struktur pemerintahan Kerajaan Kediri sudah teratur. Berdasarkan kedudukannya dalam pemerintahan, masyarakat Kediri dibedakan menjadi tiga golongan sebagai berikut:

    1. Golongan masyarakat pusat (kerajaan), yaitu kaum kerabat raja, kelompok pelayan raja, dan masyarakat yang terdapat dalam lingkungan raja.
    2. Golongan masyarakat thani (daerah), yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para pejabat atau petugas pemerintahan di wilayah thani (daerah).
    3. Golongan masyarakat nonpemerintah, yaitu golongan masyarakat yang tidak mempunyai  kedudukan dan hubungan dengan pemerintah secara resmi.

    7.   Kerajaan Singasari (Abad XIII Masehi)

    Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 Masehi. Lokasi kerajaan ini diperkirakan berada di daerah Malang, Jawa Timur. Kerajaan Singasari beribu kota di Tumapel. Pada awalnya Tumapel hanya sebuah wilayah kabupaten yang berada di bawah kekuasaan kereajaan Kediri. Tumapel dipimpin oleh bupati bernama Ken Arok. Setelah berhasil mengalahkan kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Kertajaya dalam pertempuran di Desa Ganter, Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari.

    a. Kondisi Geografis

    Kerajaan Singasari terletak di pegunungan yang subur di wilayah Malang. Kondisi tersebut menjadikan wilayah Malang berhawa sejuk dan nyaman untuk permukiman penduduk. Kondisi tanah di wilayah ini sangat subur untuk pertanian dan perkebunan karena mengandung material vulkanik dari gunungapi di sekitamya. Selain itu, keberadaan Sungai Brantas yang berhulu di Gunung Arjuno membawa berkah bagi masyarakat Malang. Daerah aliran Sungai Brantas di Malang dapat dimanfaatkan untuk irigasi pertanian atau persawahan. Kondisi geografis dan potensi wilayah Malang tersebut sangat cocok sebagai pusat kekuasaan Kerajaan Singasari.

    b. Kehidupan Politik

    Pada awalnya kehidupan politik Kerajaan Singasari diwarnai intrik istana yang berkaitan dengan pembunuhan antaranggota kerajaan. Secara berturut-turut, penguasa Singasari adalah Ken Arok, Anusapati.Tohjaya, Ranggawuni (Wisnuwardana), dan Kertanegara.

    c.     Kehidupan Ekonomi

    Singasari merupakan kerajaan Hindu-Buddha yang bercorak agraris karena terletak di wilayah pedalaman Malang, Jawa Timur. Sektor ekonomi Kerajaan Singasari menitikberatkan pada bidang pertanian. Akan tetapi, dengan keberadaan Sungai Brantas sektor pelayaran dan perdagangan juga mengalami perkembangan pesat. Singasari menguasai pusat-pusat perdagangan di sepanjang aliran Sungai Brantas. Selain itu, Singasari memiliki pelabuhan perdagangan di Pasuruan. Melalui pelabuhan ini para pedagang Singasari mengadakan kontak dengan pedagang-pedagang asing.

    d.     Kehidupan Agama

    Pada masa pemerintahan Kertanegara terdapat upaya menyatukan agama Hindu Syiwa dan Buddha Mahayana menjadi agama Tantrayana. Pendeta yang memimpin upacara agama Tantrayana disebut Dharmadyaksa. Dalam perkembangannya, Tantrayana menjadi agama resmi negara. Kondisi ini terlihat dari kegiatan Kertanegara dan para pembesar istana yang sering mengadakan upacara Tantrayana.

    e. Kehidupan Sosial Budaya

    Kehidupan sosial masyarakat Singasari selalu berubah tergantung kebijakan raja dan kondisi politik kerajaan. Saat Ken Arok memimpin Singasari kehidupan sosial masyarakat sangat terjamin. Ken Arok berusaha meningkatkan kehidupan masyarakatnya. Setelah Ken Arok meninggal, kondisi masyarakat sempat terguncang akibat konflik politik antarkeluarga kerajaan.

    Dalam bidang kebudayaan, masyarakat Singasari dikenal ahli dalam membuat candi dan patung. Candi yang dibangun pada masa Singasari antara lain candi Kidal, Jago, dan Singasari. Sementara itu, karya berupa patung antara lain patung Ken Dedes sebagai perwujudan dari Dewi Prajnaparamita (lambang kesempurnaan ilmu) dan patung Joko Dolok sebagai perwujudan Raja Kertanegara.

    8.    Kerajaan Majapahit (Abad XIII—XVI Masehi)

    Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu terbesar di Indonesia. Kerajaan Majapahit berpusat di Trawulan, Mojokerto, Jawa Timur. Pada puncak kejayaannya Majapahit hamper menguasai seluruh wilayah Indonesia.

    a. Kondisi Geografis

    Kerajaan Majapahit mengembangkan sektor agraris dajam kegiatan perekonomiannya. Sektor agraris Kerajaan Majapaliltti tidak terlepas dari keberadaan Sungai Brantas. Sungai Brantas memang memiliki peranan penting dalam perkembahgan Kerajaan Majapahit. Selain menunjang kegiatan pertanian, Sungai Brantas menjadikan Majapahit berkembang sebagai kerajaan maritim terbesar di Indonesia. Sungai Brantas menjadi sarana transportasi dan jalur perdagangan yang penting bagi perekonomian Majapahit. Sungai ini menghubungkan wilayah pedalaman dan pesisir Majapahit.

    b. Kehidupan Politik

    KerajaaiLMajapahit merupakan kelanjutan dari Kerajaan Singasari yang didirikan Ken Arok. Ketika Kerajaan Singasari mengalami keruntuhan akibat pemberontakahJayakatwang pada tahun 1292, Raden Wijaya menantu Raja Kertanegara berhasil meloloskan diri ke Madura. Raden Wijaya kemudian meminta bantuan kepada Arya Wiraraja, seorang pejabat Singasari yang disingkirkan oleh Kertanegara. Atas jaminan Arya Wiraraja, Raden Wijaya mengabdi kepada Jayakatwang. Atas pengabdiannya tersebut, Raden Wijaya mendapat sebidang tanah di hutan Tarik, Trowulan. Selanjutnya, hutan ini dibuka menjadi desa yang diberi nama Majapahit. Nama Majapahit diambil karena di sekitar Desa Majapahit, ditemukan banyak buah maja yang rasanya pahit.

    c.    Kehidupan Ekonomi

    Kerajaan Majapahit menggantungkan kegiatan perekonomian pada sektor agraris. Masyarakat Majapahit sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Pertanian Majapahit dikembangkan di sekitar aliran Sungai Brantas. Komoditas utama yang dihasilkan dari sektor pertanian adalah beras. Pada abad XIV Masehi Majapahit merupakan kerajaan pengekspor beras terbesar di Indonesia. Sungai Brantas juga digunakan sebagai saranatransportasi dan perdagangan. Pemerintah Majapahit membangun pusat-pusat perdagangan di tepi sungai tersebut. Bahkan, salah satu pelabuhan utama Majapahit, yaitu Hujung Galuh dibangun di hilir Sungai Brantas. Majapahit juga membangun dua pelabuhan lainnya, yaitu Surabaya dan Tuban. Melalui dua pelabuhan besar tersebut, Majapahit mengembangkan sektor perdagangan maritim.

    d.    Kehidupan Agama

    Majapahit memiliki kehidupan masyarakat yang kompleks termasuk dalam kehidupan beragama. Di Majapahit terdapat beragam agama seperti Hindu, Buddha, Islam, dan kepercayaan kejawen. Akan tetapi, pemerintah Majapahit hanya mengakui agama Hindu dan Buddha sebagai agama resmi kerajaan. Pengakuan ini terlihat dari adanya lembaga agama Dharmadyaksa ring Kasaiwan untuk agama Hindu dan Dharmadyaksa ring Kasogatan untuk agama Buddha.

    e.     Kehidupan Sosial Budaya

    Berbagai agama yang berkembang di Majapahit tidak menghalangi kerukunan di Kerajaan Majapahit. Raja Majapahit selalu berusaha agar ketenteraman masyarakatnya dapat berjalan baik. Kondisi ini dilukiskan oleh Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma dengan kalimat Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda, tetapi tetap satu. Usaha Raja Majapahit dalam menjaga kerukunan antarumat beragama perlu diteladani. Perkembangan seni budaya mendapat perhatian dari pemerintah Kerajaan Majapahit. Salah satu aspek budaya yang berkembang pesat pada masa ini adalah kesastraan. Para Raja Majapahit sangat peduli dengan kesastraan.

    9.    Kerajaan Buleleng dan Dinasti Warmadewa (Abad IX-XI Masehi)

    Kerajaan Buleleng merupakan kerajaan Hindu tertua di Bali. Kerajaan ini berkembang pada abad IX-XI Masehi. Kerajaan Buleleng diperintah oleh Dinasti Warmadewa. Keterangarunengehai kenidupah masyarakat Kerajaan Buleleng pa'damasa Dinasti Warmadewa dapatdipelajari dari beberapa prasasti seperti prasasti Belanjong, Panempahan, dan Melatgede.

    a. Kondisi Geografis

    Pusat Kerajaan Buleleng terdapat di Buleleng, Bali bagian utara. Keberadaan pusat kerajaan di pesisir menyebabkan Buleleng ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari Sumatra dan Jawa. Secara geografis, karakteristik wilayah Buleleng terbagi menjadi dua, yaitu dataran rendah di bagian utara dan dataran tinggi di wilayah selatan. Menyatunya pantai dan pegunungan ini menyebabkan penduduk di Buleleng selalu menjunjung tinggi semboyan nyegara gunung. Konsep nyegara gunung berarti segala pemberian alam, baik dari laut maupun gunung wajib disyukuri dan selalu dijaga kesuciannya.

    b. Kehidupan Politik

    Kerajaan Buleleng diperintah oleh Dinasti Warmadewa. Dinasti Warmadewa didirikan oleh Sri Kesari Warmadewa. Berdasarkan prasasti Belanjong, Sri Kesari Warmadewa merupakan keturunan bangsawan Sriwijaya yang gagal menaklukkan Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat. Kegagalan tersebut menyebabkan Sri Kesari Warmadewa memilih pergi ke Bali dan mendirikan sebuah kerajaan baru di wilayah Buleleng.

    c.      Kehidupan Ekonomi

    Masyarakat Buleleng menggantungkan perekonomian di sektor pertanian. Keterangan kehidupan ekonomi masyarakat Buleleng dapat dipelajari dari prasasti Bulian. Dalam prasasti Bulian terdapat beberapa istilah yang berhubungan dengan sistem bercocok tanam seperti sawah, parlak (sawah kering), gaga (ladang), kebwan (kebun), mmal (ladang di pegunungan), dan kasuwakan (pengairan sawah). Pada masa pemerintahan Marakatapangkaja kegiatan pertanian mengalami perkembangan pesat. Perkembangan tersebut berkaitan dengan penemuan urut-urutan menanam padi, yaitu mbabaki (pembukaan tanah), mluku(membajak), tanem (menanam padi), matun (menyiangi), ani-ani(menuai padi), dan nutu(menumbuk padi). Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pada masa pemerintahan Marakatapangkaja penggarapan tanah sudah maju dan tidak jauh berbeda dengan sistem pengolahan tanah pada masa kini.

    d.     Kehidupan Agama

    Masyarakat Buleleng menganut agama Hindu Syiwa. Meskipun demikian, tradisi megalitik masih mengakar kuat dalam masyarakat Buleleng. Kondisi ini dibuktikan dengan penemuan beberapa bangunan pemujaan seperti punden berundak di sekitar pura-pura Hindu. Pada masa pemerintahan Janasadhu Warmadewa (975-983) pengaruh Buddha mulai berkembang di Buleleng. Agama Buddha berkembang di beberapa daerah di Buleleng seperti Pejeng, Bedulu, dan Tampaksiring. Perkembangan agama Buddha di Buleleng ditandai dengan penemuan unsur-unsur Buddha seperti area Buddha di Gua Gajah dan stupadipuraPegulingan.

    e.     Kehidupan Sosiai Budaya

    Keadaan masyarakat Buleleng pada masa Dinasti Warmadewa diperkirakan tidak begitu jauh berbeda dengan masyarakat pada saat ini. Masyarakat pada saat itu telah mengenal golongan sosiai. Berdasarkan sejumlah prasasti yang ditemukan, golongan sosiai masyarakat Buleleng dikategorikan sebagai berikut:

    1. Golongan penguasa terdiri atas raja, para rakeyan, senapati, dan samgat.
    2. Golongan rohaniawan seperti kasaiwan dan kasogatan.

    10.    Kerajaan Tulang Bawang

    Kerjaan Tulang Bawang merupakan salah satu kerajaan yang berdiri di Lampung. Diperkirakan kerajaan ini berlokasi di sekitar Kabupaten Tulang Bawang Lampung. Sumber sejarah yang digunakan untuk merunut kerajaan in iadalah berita Tiongkok berasal dari kitab Liu – Sung –Shu pada abad V.

    a. Kondisi Geografis

    Ahli sejarah, Dr. J.W. Naarding, memperkirakan pusat Kerajaan Tulang Bawang terletak di hulu Way Tulang Bawang (antara Menggala dan Pagardewa) sekira 20 km dari pusat Kota Menggala. Sejauh ini para ahli belum mampu menentukan secara pasti letak kedudukan Kerajaan Tulang Bawang.

    b. Kehidupan Politik

    Sebelumnya telah dijelaskan bahwa kekuasaan Sriwijaya menguat pada akhir abad VII. Kondisi ini disebut dalam prasasti Kedukan Bukit di kaki Bukit Siguntang, sebelah barat daya Kota Palembang. Prasasti tersebut menuliskan bahwa pada tahun 683 Sriwijaya telah berkuasa di laut dan di darat. Pada tahun 686 negara itu telah mengirimkan ekspedisinya untuk menaklukkan daerah-daerah lain di Sumatra dan Jawa. Olah karena itu, dapat diperkirakan bahwa sejak masa itu Kerajaan Tulang Bawang telah dikuasai oleh Sriwijaya atau daerah ini tidak berperan lagi sebagai kota pelabuhan sungai di pantai timur LampUng. Kerajaan Sriwijaya merupakan federasi atau gabungan antara Kerajaan Melayu dan Kerajaan Tulang Bawang (Lampung). Pada abad VII namaTo-Lang P'o-Hwang diberi nama lain, yaitu Selampung yang kemudian dikenal dengan nama Lampung.

    c. Kehidupan Ekonomi

    Kegiatan ekonomi Kerajaan Tulang Bawang bertumpu pada sektor perdagangan. Kerajaan Tulang Bawang telah menjalin hubungan dagang dengan kerajaan lain. Menurut catatan Tome Pires (1512-1515), di Jawa Barat pernah berdiri suatu kerajaan yang disebut regno de Qumda atau Kerajaan Sunda. Kerajaan ini mempunyai beberapa pelabuhan dagang di sepanjang pantai utara. Hubungan dagang kerajaan Sunda tidak hanya bersifat lokal, tetapi sampai tingkat regional bahkan internasional. Beberapa barang dagangan dari Tulang Bawang seperti lada masuk di Jawa melalui pelabuhan Cheguide. Catatan ini menjelaskan bahwa antara Sunda dan Tulang Bawang pernah menjalin hubungan dagang terutama lada.

    d. Kehidupan Agama

    Pengaruh ajaran agama Buddha pada masa kekuasaan Sriwijaya sangat kuat. Orang Melayu yang tidak dapat menerima ajaran tersebut kemudian menyingkir ke Skala Brak. Meskipun demikian, ada sebagian orang Melayu yang menetap di Megalo dengan menjaga dan mempraktikkan kepercayaan asli.

    e.    Kehidupan Sosial Budaya

    Berdasarkan prasasti Hujung Langit (997 M), Prof. Dr. Louis-Charles Damais menyatakan bahwa pada masa pemerintahan Indarwati wilayah KerajaanTulang Bawang mencapai salah satu sudut bantaran Way Tulang Bawang, sebuah sungai yang kini menjadi urat nadi Kabupaten Tulang Bawang. Indarwati dianggap sebagai leluhur masyarakat Lampung beradat Pepadun yang mewariskan garis keturunan Megou Pak. Selain itu, pada masa pemerintahan Indarwati, Kerajaan Tulang Bawang berdiri megah, terkenal sebagai kawasan perdagangan bebas yang didatangi para pedagang dari luar negeri untuk mendapatkan rempah-rempah seperti lada, kayu manis, dan emas.

    11.   Kerajaan Kota Kapur

    Kerajaan Kota Kapur merupakan salah satu kerajaan Hindu di wilayah Sumatra. Berdasarkan hasil penelitian arkeologi yang dilakukan pada tahun 1994 di Kota Kapur, Pulau Bangka, diperoleh keterangan bahwa telah berdiri pusat kekuasaan di daerah tersebut sebelum Kerajaan Sriwijaya berdiri. Keberadaan pusat kekuasaan itu dibuktikan dengan adanya peninggalan berupa sisa-sisa bangunan candi Hindu dan area-area Wisnu dari abad V dan VII yang ditemukan di Lembah Mekong, Semenanjung Malaya, dan Cibuaya, Jawa Barat. Selain area, di situs Kota Kapur ditemukan inskripsi batu dari Kerajaan Sriwijaya berangka tahun 686 Masehi. Berdasarkan peninggalan-peninggalan tersebut diduga kekuasaan yang berpusat di Kota Kapur tersebut bercorak Hindu.

    Di situs Kota Kapur juga ditemukan benteng pertahanan yang menunjukkan angka tahun 530-870. Benteng ini digunakan menghadapi ekspansi Sriwijaya ke Pulau Bangka pada akhir abad VII. Ekspansi Sriwijaya dilakukan berkaitan dengan keinginan Sriwijaya menguasai Selat Bangka sebagai pintu gerbang selatan jalur perniagaan AsiaTenggara. Dengan penguasaan Sriwijaya atas Pulau Bangka pada tahun 686, berakhir pula kekuasaan awal Kota Kapur yang ada di Pulau Bangka.

    Artikel Terkait:
    Bagi Anda yang ingin mendapatkan notifikasi update setiap harinya silahkan bergabung WhatsApp Group Gabung Sekarang
    Comment Sekarang